Perjalanan Menuju Haji-PhD (bagian 3 dari 12)

Tulisan ini akan banyak mengeksplorasi lokasi-lokasi wisata kota Malang yang kukunjungi bersama teman-teman. Lho, kok bisa tempat wisata untuk mengenal kawan-kawan lebih dekat? Jawabannya ada pada kutipan kalimat hikmah dari Umar bin Khattab di awal, “You don’t really know a person until you live with him, travel with him or do business with him”. Anda tidak benar-benar mengenal seseorang sampai (pernah) tinggal/ bermalam bersamanya, melakukan perjalanan bersamanya, dan bertransaksi bisnis dengannya. Karakter seseorang akan tampak ketika kita lebih lama bersama-sama dengannya, hingga tinggal sedikit ruang baginya untuk menutupi kebiasaan sehari-hari, yang merupakan akhlaknya. 

Nah, untuk lokasi wisata, dalam definisiku, tidak harus sebuah lokasi berpanorama eksotis di alam bebas, yang kadang sudah dikelola oleh Pemerintah Daerah setempat, masuknya menggunakan tiket, parkir kendaraan, dan  semacamnya. Tempat wisata, buatku, adalah setiap tempat yang di sana hati kita merasa bahagia, terhibur, atau memperoleh suatu faedah yang menambah kekayan jiwa kita untuk selalu bersyukur. Oleh karenanya, tempat wisata ini bisa jadi berupa jalan setapak, masjid, warung makan pinggir jalan, lokasi wisata alam, lapangan bulu tangkis, mall, bioskop, atau, bahkan, majelis ta’lim. Pokoknya di mana ada kebahagiaan dan kesyukuran atas hikmah yang diperoleh, itulah lokasi wisata bagiku. Urutan penulisan tempat wisata itu adalah berdasar garis waktu (timeline) keberadaanku di Malang, bukan berdasar skala tertinggi pembelajaran dan hikmah yang kuperoleh darinya. Tentu saja tidak semua bisa dimasukkan dalam tulisan yang terbatas ini. Sekuensial tersebut membuat mungkin ada dua lokasi yang sebenarnya sejenis tetapi tetap kuceritakan. Verywell, sugeng rawuh alias selamat datang di kota Aremania berplat nomor kendaraan N ini.

#2. Masjid Baiturrachim, Bakalan Krajan

      Bangunannya sederhana, seperti umumnya arsitektur masjid di Jawa Timur. Catnya hijau dengan enam pilar sebagai penyangga atap depan masjid ini. Letaknya di samping kantor kelurahan, menunjukkan penerapan ajaran Walisanga (Sembilan Wali penyebar Islam di tanah Jawa) bahwa Umara atau pemimpin harus dekat dengan ajaran agama, masjid, serta Ulama’. Tata ruangnya khas masjid Nahdliyin Jawa Timur dengan shaf wanita bersebelahan dengan shaf laki-laki. Khas pula tempat wudhu dengan kolam air dangkal di dekatnya. Adem sekali,  ada benarnya kata para cendekia bahwa bangunan sesederhana apapun ketika banyak disebut nama Allah di sana akan menghadirkan atmosfer yang sejuk dan menentramkan.  Bagaimana tidak kuanggap masjid (tempat bersujud) ini sebagai tempat wisata untuk jiwaku? padahal tempat inilah kurendahkan kepalaku sejajar dengan kaki untuk sesenggukan memohon belas kasih dari Allah sehingga kuperoleh ketenangan itu.

      Ya, mohon belas kasihan ketika nilai-nilai simulasi IELTS ku di kampus PKBI berserak-serak tidak karuan, ketika nilai PR Grammair-ku berhias coretan merah di hampir seluruh nomornya, ketika tes listening skor-benarnya lebih rendah dari separuh jumlah soal, ketika kemampuan speaking ku tercekat-cekat dalam semrawutnyta koordinasi vocabularies di kepala,….Hanya nama Allah yang kusebut-sebut…nama Allah, di masjid ini. “Yaa Allah tolonglah hamba-Mu yang lemah ini. Jangan biarkan hamba pulang kembali ke UMS dengan kepala tertunduk. Sudah hamba tinggalkan jam-jam amanah mengajar mahasiswa dan membebankannya pada kawan dosen lain, sudah hamba tinggalkan kewajiban mencari nafkah untuk anak-istri di rumah, semua untuk mendapatkan nilai terhormat di IELTS ini…Maka dari itu Yaa Rabb, Yaa ‘Aaliim, berilah hamba kekuatan dari sisi-Mu agar mampu meraih skor IELTS 6.5 saja Yaa Rabb, 6.5 saja. Supaya hamba bisa pulang dengan kepala tegak Yaa Allah…Please.” 

            Masjid Baiturrachim (Rumah dari Ar Rachim_Sang Maha Penyayang) ini juga menjadi saksi bagi keningku yang tersungkur lunglai di lantai, di saat finansialku sedang berada pada titik kritis demi anak-anak bisa membayar uang sekolah dan uang stipend dari DIKTI juga belum dikirimkan. Masjid ini menjadi penawar sedihku. Hanya beberapa lembar uang terakhirku di dompet kumasukkan ke kotak infaq sembari berharap Allah ta’ala menggantinya dengan kemudahan dan kelimpahan. Ditambah puasa Senin-Kamis, selain untuk mengelola hawa nafsu ketika jauh dari istri, juga cukup menghemat pengeluaran ketika dompet sedang tipis. “ Who will lend to Allah a good loan which Allah will multiply many times over? It is Allah alone who decreases and increases wealth. And to Him you will all be returned (Al Quraan, Suraatul Baqaraa: 245).      

            Kenapa terjemah Al Quran itu kutulis dengan bahasa Inggris? Alhamdulillah, itu adalah salah satu jawaban dari Allah untuk doa-doaku agar diberikan hasil sesuai ekspektasiku di skor IELTS. Insyaa Allah sejumlah paragraf ke depan akan merangkai puzzle-puzzle jawabanya…sembari jalan-jalan dahulu ke tempat wisata lainnya. Sedikit bocoran saja, bahwa dalam sebuah perjalan pulang dari umroh, dua tahun setelah kegiatan PKBI ini, aku ada di suatu taksi ukuran besar dengan penumpang dari negara lain. Mereka berbicara bahasa Inggris aksen British, tetapi ketika kucermati ia dan kedua kawannya sedang mendiskusikan sebuah hadist Nabi. Setelah turun di pool kilometer 10 di kota Jeddah, baru kuketahui bahwa mereka adalah mahasiswa Universitas Islam Madinah asal Manchester, Inggris. Maasyaa Allahit was very nice to meet you, Brothers. 

Bersambung ke bagian 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *