Bersabar tanpa boleh lelah, bersabar tanpa boleh menyerah, karena bersabar itu indah dan dibersamai ﷲ. ((Muhammad Luthfi))

Sik Penting Submit
Ganjalan dalam dada akibat skor IELTS yang labil sedikit hilang setelah bertemu dengan para mahasiswa baru di Kampus. Mengajar adalah hidup dan kegembiraanku. Bertahun-tahun sebelum menjadi dosen, aku adalah guru dan trainer di berbagai jenjang sekolah yang berbeda. Sebelum lulus menjadi sarjana Pendidikan tahun 2007 pun, aku sudah mengajar di berbagai tempat dan institusi. Maklum, kejar setoran sebagai kepala rumah tangga yang harus mencari nafkah bagi anak istri. Ya, aku menikah ketika semester empat kuliah S1 FMIPA di UNY Yogyakarta, sehingga wajiblah bagiku untuk bekerja menjemput rezeki dari-Nya sejak kuliah dulu. Dan mengajar serta menulis adalah salah satu andalanku selain dari berjualan barang dan jasa.
Bercengkerama dengan mahasiswa, praktikum laborat Biologi, kuliah, dan studi Biologi di lapangan sejenak melupakanku dari kegundahan status kepegawaianku di kampus. Sampai pada perjalanan ini, aku mulai bertemu dengan dosen-dosen muda senior (dosen muda tetapi lebih dulu masuk di UMS) dengan segudang pengalaman mereka mengenai seluk-beluk kepegawaian dan hikmah di balik persyaratan tersebut. “Tujuannya skor IELTS mencukupi itu supaya peluang kita tembus doctoral luar negeri semakin tinggi. Dan semakin banyak Doktor lulusan luar negeri, tentunya akan menambah kredibilitas dan daya gedor kampus kita di kancah Akademik Nasional.” Begitu kata salah satu senior tersebut. Beliau ini salah satu Magister edukasi dari Universitas Aberdeen, Skotlandia, sekaligus inisiator grup Whatsapp “Sing Penting Submit”.
Grup WA Sing Penting Submit (SPS) tersebut bervisi-misi agar anggotanya terus berjuang dengan Submit proposal dan aplikasi studi demi mendapat beasiswa atau program doctoral di Luar Negeri. Karena prinsip grup ini adalah “rezeki pasti menemukan jalannya”, maka tiap anggota grup diwajibkan untuk sebanyak-banyaknya submit proposal studi dan aplikasi di setiap peluang beasiswa luar negeri, entah di Asia, Afrika, Australia, atau Eropa tanpa pandang negara; asal bukan Antartika. Dari mengingat slogan grup inilah, dengan bermodal IELTS 6.0, kuberanikan diri mensubmit aplikasi serta proposal riset doktoral ke sejumlah universitas di negara-negara yang masih menerima skor 6,0. Memang, kalau hendak masuk ke jurusan Sains murni atau Teknik, ada beberapa negara yang masih menerima skor IELTS 6,0. Namun, mengingat konsentrasiku di bidang Pendidikan atau masuk dalam rumpun Humaniora atau Sosial sains, nilai 6.0 adalah sangat pas-pasan, Kawan. Rata-rata jurusan Humaniora meminta skor overall 6,5 bahkan 7,0 untuk IELTS. Yaa Salaam.
Setelah mengulak-alik dari benua-ke-benua, negara-ke-negara, dan kampus-demi-kampus…jatuhlah pilihan pada dua negara, yaitu Jepang dengan Kanazawa University dan Saudi Arabia dengan King Abdulaziz University/KAU (Jeddah), King Saud University/ KSU (Riyadh), serta King Abdullah Science and Technology/ KAUST (Thuwal). Berbekal Basmallah, dokumen yang telah dipindai serta pengantar dari dua dosen pembimbing dari Pascasarjana Pendidikan Biologi UNY, kulayangkan berkas-berkas digital itu menuju negeri nun jauh di sana. Sembari berdoa agar diberikan keputusan yang terbaik. Jurusan yang kutuju di Kanazawa University (KU) adalah Teknologi Pembelajaran plus calon supervisor yang riset-risetnya terkait dengan minatku di bidang tersebut. KU adalah kampus yang secara resmi bekerja sama dengan Kemetrian Ristekdikti dalam beasiswa studi doctoral. Sementara untuk Saudi Arabia, karena persyaratan IELTS untuk doctoral di negara ini cukup 5,5-6,0 saja, aku memilihi jurusan BioScience di KAUST, Computer Information System di KAU, dan Ilmu Pendidikan di KSU.
Balasan tercepat datang dari Kanazawa University. E-mail datang sehari setelah submit, isinya meminta agar semua dokumen diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Ternyata ijazah S1 ku belum berbahasa Inggris, maklum lulusan tahun baheula, 2007, sehingga saat itu wawasannya masih “lulus jadi guru”, sudah. Misal akan lanjut studi-pun, itu untuk magister dalam negeri. Baiklah, translasi bahasa kulakukan secara mandiri dengan bantuan Google Translate (sebuah kedunguan bercampur naif, sebab seharusnya diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah yang legal-formal).
Alhamdulillah ‘alaa kulli hal, surat balasan bahwa persyaratan administrasi tidak lolos segera terpajang di ruangan kotak masuk surat elektronikku. Balasan berikutnya datang dari King Saud University, kuota mahasiswa internasional sudah terpenuhi, rejected. Dilanjutkan oleh KAUST dengan alasasn yang setali tiga uang. Satu lagi KAU, tidak ada balasan, kupikir juga sama saja rejected. Sah, aku belum siap untuk S3 di luar negeri dengan skill menyusun proposal riset dan skill bahasa pas-pasan seperti ini. Murung, kulupakan sejenak cita-cita belajar S3 di luar negeri serta harapan kemapanan hidup sebagai dosen tetap di UMS.
Sejumlah peluang beasiswa berikutnya berdatangan. Lagi-lagi grup WA “Sing Penting Submit” memotivasi para anggotanya untuk terus kirim dan mendaftar, Turkiye Burslari (Turki), Stipendum Hungaricum (Hungaria), juga Monbusho (Jepang). Namun entah kenapa, aku berasa sudah lelah. Misal coba submit pun, paling berhenti di tengah jalan. Aku benar-benar lelah, karena penolakan ternyata tidak indah. Izinkan aku rehat sejenak kawan-kawan. Kutergugu sendu dalam ringkuk kesedihan, terlebih ketika satu-demi-satu ada kabar gembira dari kawan-kawan seperjuangan yang diterima beasiswanya di negara manca. Dua kawan dosen satu angkatan di pelatihan IELTS Bandung dulu, dua-duanya juga dari departemenku, Pendidikan Biologi, sudah menerima beasiswa dan segera semuanya berangkat ke Jepang, Kanazawa University dan Ryukyush University di Okinawa.
Aku ikut bahagia untuk mereka, karena bagaimanapun juga, prestasi ini adalah kebanggaan bagi departemen dan Fakultasku, kucoba menghibur diri dan melihat peristiwa itu dari kacamata yang lebih tinggi. Bagaimana denganku? Kutarik napas sembari berucap lirih: “Allahu…Allahu…Allahu, kepadaMu-lah diri yang lemah ini bersandar serta berharap”. Khusnudzhan saja, bahwa Allah sang Maha Bijaksana inginkan ku untuk lebih banyak mengenal dan belajar-mengajar di kampus UMS dulu, jangan buru-buru ditinggal ke luar negeri. Masih banyak yang perlu kukenali dan kupelajari. Bersabar tanpa boleh lelah, bersabar tanpa boleh menyerah, karena bersabar itu indah dan dibersamai Allah.
Bersambung ke bagian 3
(Sekilas bagian 3)
… Malu aku, sudah meninggalkan tugas mengajar, jatah insentif mengajar di kampus yang seharusnya menjadi nafkah tambahan untuk sekolah tiga anakku yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit menjadi tidak ada, masih ditambah kemampuan IELTS ku yang tak juga membaik