Menggenggam Istikharah antara Birmingham dan Jeddah (bagian 1 dari 4)

Karena rencana Allah lebih indah, dari sekedar hasrat yang membuncah.

Karena rahasia-Nya terlalu tinggi untuk digerutu dan disesali

Karena Dia, Sang Maha, tak pernah lupa

Pada doa-doa yang pernah kita haturkan kehadirat-Nya.

Hanya perlu yakin, setiap hikmah pasti hadir tiba masanya.

IELTS oh IELTS

Sabtu ini adalah malam terakhirku berada di kota Bandung dalam rangka menjalankan tugas dari homebase-ku, Universitas Muhammadiyah Surakarta, untuk mengikuti pelatihan IELTS bagi dosen-dosen muda. Baru maghrib tadi aku selesai IELTS Official test pada conversation section di salah satu hotel di kota kembang ini bersama tiga puluhan dosen muda UMS lainnya. Letih.

            Kampus tempat kami nantinya akan bekerja sebagai dosen, mewajibkan setiap dosen baru untuk segera bisa melanjutkan studi doktoral. Dan sangat direkomendasikan untuk keluar negeri. Setidaknya itulah klausul pertanyaan krusial saat wawancara dengan Wakil Rektor V UMS yang membawahi bidang SDM dan studi luar negeri, “Apakah Anda bersedia untuk segera melanjutkan studi ke luar negeri?”. Barangkali jawaban afirmatif dari pertanyaan itulah yang membuat sebagian besar dari kami diterima sebagai dosen di kampus Muhammadiyah kebanggaan kota Solo Raya ini. Dan inilah kami sekarang, harus berjibaku selama sebulan penuh untuk kursus peningkatan kemampuan English agar tembus tes IELTS dengan skor terhormat. Sehingga, kami memiliki peluang lebih besar untuk tembus skema beasiswa doktoral, darimanapun sumber pendanaannya.

            Alhmadulillah, besok pagi siap-siap pulang ke Solo dengan kereta dan melanjutkan tugas perdana untuk mulai mengajar mahasiswa baru semester ganjil. Kami pulang dengan kelegaan yang bersanding dengan sedikit anxiety. Ya, kecemasan jika skor IELTS kami tidak mencapai standar minimum 6,5. Karena skor tersebut sebagai syarat pula sebelum kami bisa diangkat menjadi dosen tetap nantinya setelah masa evaluasi setahun berikutnya sebagai Capeg (Calon Pegawai).

            Singkat cerita, dua pekan lebih berlalu. Dag-dig-dug, kubuka ponselku untuk memeriksa skor IELTS yang bisa diakses secara daring. Allahush-shomad, skorku…“6,0”. Gagal! Dan mulailah, grup Whatsapp kami riuh. Skor tertinggi kloter kami adalah 7,0 yang diraih oleh 4 orang dosen muda. Supaya mengurangi rasa bersalah sekaligus sebagai upaya excuse-ku, kuulas profil keempat jawara tersebut. Kawan dosen pertama yang memeroleh skor terhormat itu menempuh studi magisternya di University of Birmingham, Inggris Raya dan S1 nya dari UNDIP Semarang, wajar. Kawan dosen kedua, studi magisternya di Jepang dan jenjang S1 nya ditempuh di ITB.  Kawan dosen ketiga adalah lulusan Magister Ekonomi Pembangunan UGM dan sudah pernah bekerja dengan kolega internasional JICA Jepang. Adapun kawan dosen keempat adalah lulusan UNDIP Semarang dengan hobi main game RPG berbahasa Inggris serta gemar pelajaran Bahasa Inggris sejak dari SMA (meskipun jurusannya Ekonomi). Nah, puas sudah diriku membuat “pemaafan” terhadap kelemahanku, yang mana sebenarnya sikap ini tidak baik. Alih-alih belajar dari kekurangan, malah mencari pembenaran atas hasil (atau usaha) yang kurang optimal.   

Bersambung ke bagian 2

(Berikutnya di Bagian 2)

… Grup WA Sing Penting Submit (SPS) tersebut bervisi-misi agar anggotanya terus berjuang dengan Submit proposal dan aplikasi studi demi mendapat beasiswa atau program doctoral di Luar Negeri. Karena prinsip grup ini adalah  “rezeki pasti menemukan jalannya”, maka  tiap anggota grup diwajibkan untuk sebanyak-banyaknya submit proposal studi dan aplikasi di setiap peluang beasiswa luar negeri, entah di Asia, Afrika, Australia, atau Eropa tanpa pandang negara; asal bukan Antartika. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *