Nouman Ali Khan, IELTS, dan Baitullah Al Haram

Saya ingin sedikit bercerita tentang Nouman Ali Khan (NAK), score IELTS, dan Baitullah. Maukah Anda menyimaknya?

Nouman Ali Khan dan Mufti Menk: Dua Da’i with English Speaking yang menjadi inspirasiku belajar Listening via Youtube

Bisa dikatakan, score All band 7,5 serta score 8,5 di listening band saya di IELTS salah satunya berkat ceramah-ceramahnya ini. Nope, bukan untuk pamer dan gaya-gayaan skor IELTS. Bahkan, sorry to say, score sebegitu tidak berhasil membawa saya memperoleh beasiswa PhD ke U.K, negara yang sangat saya ingin tuju untuk menempuh strata tertinggi dalam dunia akademik tersebut.

Semua berawal dari hampir putus asanya diri ini untuk memperoleh skor total 6,5 saja di IELTS. Selalu gagal, bahkan sampai ikut 2 kali kursus intensif tes kemampuan bahasa dari Cambridge itu, masih juga gagal. Berbulan-bulan, dari Bandung sampai Malang, belum juga bisa mengangkat skor saya. Berulang kali simulasi, mentok di angka 6.0, seringnya malah kurang.Alhamdulillah, Allah ta’ala beri hambaNya yang lemah ini jalan.

Saya diberi ide untuk belajar bahasa Inggris dari Al Quran dan kajian-kajian tentang Al Quran. Kok bisa, Quran kan berbahasa Arab? Justru itu, mungkin selama belajar English, saya kurang sreg jika harus menyaksikan banyak video atau film Hollywood yang notabene membawa budaya dan selipan ajaran yang menurut saya pribadi kurang nyaman. Ini pendapat pribadi lho ya, tidak bisa digeneralisasi.

Dan, alhamdulillah, semenjak mempelajari vocabulary dari Al Quran terjemah English, skill reading saya mengalami kenaikan, tentunya juga ditambahi dengan belajar buku Grammar dan buku penunjang lainnya. Tetapi harus saya akui, Al Qur’an terjemah Arab-English itu yang membuat saya makin mantap untuk terus belajar English for IELTS . Kosakata baru bisa saya dapat 5-10 buah setiap kali membaca dan menelaah Al Quran (dengan niat untuk memdawamkan diri Tilawah Al Quran harian, one day half Juz) sekaligus ikhtiar meraih keberkahan dari Kitabullah.

Bagaimana dengan Listening? Parah. Ini band paling parah di antara reading, writing dan speaking. Entah kenapa, sulit sekali saya untuk konsentrasi dan menyimak paparan dari audio di IELTS. Nilai sering parah di band yang satu ini, dapat 5,5 saja sudah bagus. Singkat cerita, saya ingat pernah diberi sejumlah copy video Nouman Ali Khan dan Mufti Menk oleh my best brother di UMS @Fitri Kurniawan yang dulu sekolah di Scotland.

Aha, benar juga. Sekali lagi, saya bisa tetap belajar agama Islam (interest saya memang di sini) dengan menyimak ceramah-ceramah beliau dan para Da’i English-speaker lainnya di YouTube sekaligus belajar Listening. Tips untuk belajar listening ala Al faqir Ilmu ini adalah dengan mengaktifkan subtitle English di YT pada video ceramah berbahasa Inggris. Jadi kita tahu bagaimana bentuk tertulis suatu kata dilafalkan oleh Native speaker. Sekali lagi, sambil saya resapi nasihat dalam ceramah-ceramah tersebut. One stone hits two birds. Finally, I got 8.5 point in the Listening section from 5,5 maximum before.

Alhamdulillah, Maashaa Allah. Dengan tetap menghaturkan rasa hormat dan terima kasih kepada para Guru, Tutor, dan Professor yang mengajari saya English IELTS, itu tadi salah satu tips saya menambah secara mandiri skill English untuk IELTS test.

Bagaimana dengan United Kingdom? Qadarullah, meski sudah mengerahkan great efforts buat meraih beasiswa ke sana, mulai dari kontak-kontak calon Spv sampai memelototi ratusan lama Web kampus, agency, serta promotor beasiswa ke UK, nyatanya sampai limit terakhir pengiriman berkas beasiswa, belum membuahkan hasil. Bahkan calon Spv di Univ of Birmingham yang sudah hampir memberi lampu hijau, tiba-tiba, karena salah saya sendiri sih, memutuskan untuk tidak bisa melanjutkan korespondensi, apalagi menjadi Spv. Oh, Dear. What a bloody mess.

Namun, Allah sang Maha Pemurah beri jalan lain. Setelah hampir jatuh ke titik nadhir, “Ah mungkin belum saatnya aku dapat beasiswa Overseas. Barangkali rezekiku suatu saat nanti sekolah Doktoral di dalam negeri saja…supaya bisa mendengar adzan lima kali sehari.” ~ Oh iya, sedikit sisipan cerita. Dulu sekali, ketika kursus intensif IELTS di Bandung atas dana dari UMS, pernah ada satu sesi perkenalan yang akan selalu kuingat. Saat itu, setiap peserta kursus, yang mana adalah dosen-dosen muda UMS, diminta untuk maju ke depan kelas untuk perkenalan dan menyampaikan negara tujuan studinya beserta alasan.

Saya ingaaat sekali, saat itu maju dan berkata, “Saya ingin kuliah di Malaysia, kenapa, karena saya ingin kuliah luar negeri dengan tetap mendengar Adzan lima kali sehari...” Banyak audiens tertawa. Salah satu tutor, yang merupakan lulusan Magister di Flinders University, Australia berkata “Saya tetap bisa mendengar adzan lima kali sehari di Australia.” Benarkah? tanyaku antusias. “Benar, suara adzan reminder dari laptop…” kata tutor tersebut.Lagi-lagi tawa membahana di ruang kelas itu. Aku tersenyum ala jeruk nipis. Masam

========================================================

Air mata tak bisa kubendung, ketika kening hamba yang hina ini akhirnya bisa menempel sujud di gigir lantai Hijr Ismail, setelah berdesak payah dengan gelombang jamaah dari penjuru bumi. Allah kabulkan doaku, meski setelah bertahun kemudian berlalu. Tidak hanya mendengar adzan lima kali sehari, bahkan diri yang lemah ini dipanggil untuk bisa sholat menghambakan diri, di pusat kiblat muslimin di bumi. Masjid rumah Allah. Baitullah Al Haram, Makkah, Arab Saudi.****Semoga satu lagi permohonan berkenan Allah ijabahi : #HajiPhD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *