Menggenggam Istikharah antara Birmingham dan Jeddah (Bagian 3 dari 4)

Kemalangan yang Berakhir di kota Malang

      Lagi-lagi grup WA “Sik Penting Submit (SPS)” meberi kabar harapan tentang pelatihan IELTS bagi dosen-dosen di bawah naungan LLDIKTI di seluruh Indonesia, PKBI nama programnya; “Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris”. Acara ini diselenggarakan di Bandung, Malang dan Yogyakarta, di tiga universitas ternama di tiga kota tersebut, yaitu ITB, Universitas Negeri Malang (UM), dan UNY. “Lumayan ini, untuk perbaikan nilai IELTS kita, diberi tunjangan lagi oleh DIKTI. Hanya saja, pelaksanaannya tiga bulan dan lokasi kotanya biasanya dipilih yang jauh dari kampus homebase kita.”, warga grup SPS memberi kabar. Maasyaa Allah, kesempatan menarik ini. Kapan lagi bisa belajar IELTS secara intensif, dibimbing oleh para ahlinya, dan dibiayai penuh lagi oleh negara, gumamku dalam hati. Akan tetapi ini tiga bulan lho, artinya meninggalkan kampus selama hampir satu semester.

      Alhamdulillah, setelah kukonsultasikan pada Kepala Depertemen ku, tanggapan beliau positif dan mempersilahkan. Beliau paham, bahwa memeroleh skor IELTS yang baik sebagai syarat beasiswa ke luar negeri adalah visi Universitas yang harus diterjemahkan oleh tiap unit Pendidikan di bawahnya. Benar-benar anugerah memiliki pimpinan seperti beliau, terima kasih yang takterkira bu Kaprodi. Alhamdulillah, semua syarat bisa kupenuhi meski dengan sejumlah perjuangan dan pengeluaran anggaran. Tidak mengapa, Jer basuki mawa beya pepatah Jawa bilang. Artinya setiap kemuliaan pasti memerlukan modal biaya.

****

            Kota Malang ternyata sudah tidak sedingin dulu seperti ketika pertama kali datang ke sini tahun 2006, atau dua belas tahun yang lalu. Waktu itu, aku datang sebagai mahasiswa peserta PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) di Universitas Muhammdiyah Malang (UMM). Dinginnya kota apel ini begitu menggigit, sampai akhirnya hari terakhir acara aku terserang flu dan demam. Meski akhirnya aku tetap terhibur dengan perolehan medali perunggu untuk karya ilmiah yang kami perjuangkan di bawah bendera kontingen mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta.

      Kuusap keringatku ketika keluar dari Stasiun Malang Kota untuk mencari taksi online menuju lokasi kosan yang sudah kupesan sepekan sebelum keberangkatan. Oh iya lupa, pengajuanku untuk mengikuti PKBI diterima, dan Malang adalah kota penempatan studi intensif IELTS ku kali ini. Tak sia-sia perjuangan untuk bisa lolols PKBI ke Malang ini meninggalakan zona nyaman di rumah dan kampus. Menarik sekali ternyata program PKBI di kampus UM Malang ini. Dosen-dosen pengajarnya berpengalaman; terdiri dari Profesor Pendidikan Bahasa Inggris, Doktor pakar bahasa, serta magister lulusan luar negeri dengan pengalaman tembus beasiswa ke Australia, Inggris, juga New Zealand. Belum lagi dosen-dosen tamu yang merupakan representasi kampus dari Amerika dan Eropa, yang khusus datang untuk mempromosikan beasiswa kampus di negara mereka. Belum lagi ketika bertemu dengan kawan dosen-dosen dari penjuru Indonesia, membuka wawasan dan semnagat kolegial kita. Setidaknya itu kesan awal pada dua pekan pertama ada di dalam program yang punya nama lain PDEC ini; Pre-Departure English Course.

Universitas Negeri Malang, titik terang dalam perjalanan capaian IELTS

      Namun, tak ada kesenangan yang tidak dibersamai kesulitan. Mulailah belajar intensif IELTS ini menunjukkan taji tantangannya. Di antara 4 kemampuan berbahasaku, yaitu menyimak (listening), membaca (reading), menulis (writing), dan berbicara (speaking) kesemuanya tak kunjung menunjukkan perbaikan. Paling parah adalah skill listening dan speaking. Sementara yang agak parah adalah writing disusul reading. Kadang kalau sholat wajib, waktu sujud aku sengaja agak lamakan waktunya. Bermunajat pada Allah agar diberi taufik dan hidayah di bidang IELTS yang satu ini. Malu aku, sudah meninggalkan tugas mengajar, jatah insentif mengajar di kampus yang seharusnya menjadi nafkah tambahan untuk sekolah tiga anakku yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit menjadi tidak ada, masih ditambah kemampuan IELTS ku yang tak juga membaik. “Sabar, namanya proses, kan baru sebulan”, hibur istriku melalui WA call. “Anak-anak selalu kuingatkan untuk mendoakan Abi di sana agar meperoleh skor yang diinginkan serta diberi petunjuk studi ke tempat yang terbaik.” suara wanita yang kukhitbah di bawah pohon Akasia di depan rektorat UNY 14 tahun silam itu, memberiku kesejukan. Semangat lagi!

      Namun kembali kenyataan tak seindah harapan, tes formatif tiap dua pekan memberi hasil skor simulasi IELTS berkisar antara 5,0 sampai 5,5 saja, tidak juga membaik. Sementara Official test IELTS pertama (kami mendapat dua jatah tes Official IELTS tiap 1,5 bulan) semakin dekat. Sampai tahap  ini aku tak juga bisa berpikir visioner untuk menunju kampus mana di luar negeri. Boro-boro sekolah luar negeri, skor saja tak juga berprospek sampai ke 6,5. Di kelas pun aku tak cukup percaya diri seperti kawan dosen lain yang sudah memiliki kampus targetnya; ada yang di Australia, Belanda, Skotlandia, atau negara Eropa lainnya (karena kawan-kawan ini ada pula yang sudah memeroleh LoA atau Letter of Acceptance, namun masih butuh haisl skor IELTS yang mencukupi sebagai syarat beasiswa). Upaya yang terus kulakukan adalah memperbaiki kualitas sholat di masjid, sedekah, puasa sunnah, dan tilawah Al Quran; semacam tidak nyambung dengan IELTS ya? Lha bagaimana lagi, segala upaya fisik-akademik sudah kucoba lakukan, tapi belum ada tampak titik cerah di depan sana. Ya sudah, ilmu orang kepepet dan sadar akan kelemahan diri setelah ikhtiar maksimal, adalah tawakkal.

      Alhamdulillah, ajaibnya, seperti ada kekuatan inspiratif yang mengarahkan ikhtiarku. Aku seperti dituntun untuk belajar bahasa Inggris dengan gayaku sendiri. Untuk listening, aku buka video-video YouTube kajian Islam berbahasa Inggris seperti Nouman Ali Khan, Mufti Menk, atau channel The Merciful Servant dan The Rational Believers, sebagai suplemen belajar selain dari video Learning English dari BBC dan aplikasi android tentang pelatihan IELTS yang kredibel. Dengan mengaktifkan autotext English subtitle, kajian Islam yang disampaikan dalam video tersebut dapat kupelajari teks, kosakata, serta prononsiasi-nya. Sementara untuk menambah referensi kosakata dan skill reading, aku gunakan Al Quran terjemahan English yang standar. Jika kutemukan kata-kata yang unik dan belum kuketahui artinya serta penggunaannya dalam kalimat, kucatat semua di atas kertas dan kucari maknanya menggunakan persilangan antara kamus Merriam Websters  Dictionary dan kamus terjemah Inggris-Indonesia. Alhamdulillah, kiat ini secara kombo membuatku bersemangat, aku tetap belajar Islam yang menjadi minatku sekaligus bisa belajar bahasa Inggris sebagai persiapan Official Test.

      Meski insentif bulanan program PKBI is notorious akan keterlambatannya, tetapi kuusahakan untuk tetap bersedekah di masjid dekat kontrakan kost, seberapapun itu, dan setiap hari. Sembari terus kuperbanyak berdoa saat waktu mustajab; seperti ketika sujud, antara adzan dan iqomah, antara dua khutbah Jumat, dan sepertiga malam akhir, agar Allah berikan kemudahan bagiku mendapatkan skor 6.5, ya cukup 6.5 saja. Supaya aku bisa pulang kembali ke kampus dengan kepala tegak. Please ya Allah…please… suaraku memelas dalam kesunyian batin. Bakda subuh juga bisa kumanfaatkan untuk berlatih listening dan writing karena suasana masih tenang dan memudahkan untuk fokus. Sementara untuk latihan speaking tetap harus berlatih di kelas bersama kawan-kawan. Meski tercekat-cekat aku dalam berbicara English, tetapi di kelas bisa lebih percaya diri sebab kawan-kawan yang sudah jago bertutur bersedia membimbing dan memberi saran pada kawan yang belum lancar. It was so really fun to learn with you, Guys!    

            Hari yang kucoba hindari, mau tidak mau datang juga, inilah dia D-Day of the IELTS official test! Malam sebelumnya sesenggukan aku bermohon pertolongan dari Allah agar diberi kemudahan agar memeroleh skor 6,5 saja, Please yaa Allah. Sebelum berangkat pun, dengan kepercayaan diri yang tipis, kuputuskan untuk sholat Dhuha sekaligus istikharah, agar dimudahkan untuk memilih pilihan terbaik. “Yaa Allah, hamba benar-benar takut kali ini. Takut jika hasilnya mengecewakan, takut jika tidak bisa memenuhi harapan dan amanah dari kampus dan orang-orang yang berdoa untuk hamba. Tolonglah hamba-Mu ini Yaa Allah…tolonglah…mudahkanlah yaa Rabb dan janganlah Engkau beri pada hamba kecuali kemudahan. Aamiin.

****

     Empat belas hari berlalu setelah tes official yang membadai-guruhkan jiwa dan fisikku itu. Hari itu adalah hari Jumat. Posisiku sedang pulang libur akhir pekan. Ya, jarak Malang sampai Klaten hanya enam jam saja dengan kereta. Sehingga aku beberapa kali bisa pulang setiap dua pekan. Bakda sholat jumat, kuberanikan diri mengintip grup WA PKBI UM Malang. Sudah ramai ternyata…skor IELTS sudah muncul! DEG! Dadaku berdebar serius. Sebuah tautan alamat situs untuk memeriksa hasil IELTS sudah dishare oleh salah satu kawan. Hampir sepuluh menit aku masih maju-mundur untuk mengeklik link tersebut. Bismillah….

      Setelah kumasukkan nomor identitas, tanggal tes, dan nomor tes…hasilnya keluar. Yaa Allah! Doaku selama ini, doa anak-istriku, doa orang tuaku agar skor IELTS ku mendapat 6,5 saja, TIDAK DIKABULKAN ALLAH! Karena setelah kuperiksa dengan cermat…skor overall IELTS ku adalah…. 7,5! Langsung kutersungkur sujud di lantai. Sejurus kemudian aku berlari menuju istriku dan memeluknya erat. Suaraku tergetar, “Mii, alhamdulillah aku dapat 7,5!” Spontan aku berseru, “Inggris, aku bisa ke Inggris!” Kemalanganku belajar IELTS berakhir sudah di kota Malang, bersama harapan baru untuk berjuang mencari beasiswa ke negeri Britania Raya. Indeed, Britania Raya, karena diam-diam sejak pertama kali aku kenal dan latihan speaking berpasangan dengan kawan dosen UMS lulusan University of Birmingham, UK peraih skor IELTS 7,0 pada pelatihan IELTS di Bandung dulu, hatiku mulai terpaut dengan cerita pengalamannya belajar di negeri ratu Elizabeth serta aksen British yang menawan itu. Oh, Dear

Bersambung ke bagian 4

(Sekilas bagian 4)

…“Please don’t try to cover everything! The study needs to be manageable, so be realistic as to the particular issues/groups upon you can focus and the resources to access. In reality you will only have a maximum of three months for fieldwork.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *