Perjalanan Menuju Haji-Ph.D (bagian 1 dari 12)

“You don’t really know a person until you live with him, travel with him or do business with him”― Omar ibn al khattab

Baik, Tant Devi, Aswin, Chief Zizu, dan mbak Mala, kita sepakati acara webinar “Pejuang Beasiswa” besok diselenggarakan hari Rabu 17 Juni 2020, jam 15.30 WIB ya. Terima kasih semuanya, untuk berkenan sharing di acara Webinar dari SenangBerbagi.or.id. Info saja, calon peserta acara kita terdaftar sudah mencapai 300 orang lebih.” kututup percakapanku di grup WA bersama kawan-kawan yang baik budinya itu.

      Ya, mereka berempat adalah kawan-kawanku, alumni PKBI Malang, para dosen dari empat kampus yang berbeda, sekaligus peraih beasiswa Doktoral Luar Negeri di empat negara yang berbeda pula. Satu di Melbourne, Australia dan tiga lainnya di Kopenhagen (Denmark), Szcheged (Hungary), serta Glasgow (Scotland), benua Eropa. Dan diriku sendiri, Alhamdulillah, juga sekarang berstatus mahasiswa Ph.D overseas seperti mereka berempat. Menarik? Ah, diriku ini, maunya langsung klimaks saja, lupa foreplay dulu, hehe. Begini pembaca yang budiman, sebelum bercerita panjang-lebar-tebal-dan volume, izinkan saya berkenalan diri dulu ya.

       Googling saja dengan keyword “Muhammad Luthfi Hidayat”, nanti akan Anda temukan lima querry teratas, yang bisa jadi bertukar-tukar susunannya antara mereka. Kata kunci berupa nama tersebut terdaftar di Google Scholar, Sinta-Ristekbrin, Facebook-id, id.Linkedin, dan ums-staff. Sudah, itu saja perkenalanku ya. Selanjutnya, kata “aku” dan kata “saya” juga akan beberapa kali saling tukar. Kadang saya akan bertransformasi menjadi tokoh seorang dosen yang lebih elegan-akademik, kadang pula menjadi tokoh story-teller “aku” yang melankolis-dramatis, begitu. Bukankah seorang pendidik harus mampu menjadi seorang pemain peran yang ligat?  Semoga Anda tetap merasa nyaman ketika membacanya.

Ask Google about PKBI: Program Keluarga Berencana Indonesia?

      Baiklah, kuawali tulisan ini dengan PKBI.KalauAnda bertanya pada Google tentang PKBI, sub judul di atas akan menjadi jawabannya. Namun tentu saja bukan itu arti PKBI di dalam tulisan bahkan buku ini. PKBI adalah abreviasi dari “Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris”, sebuah program yang diinisiasi oleh Kementrian Ristek dan Pendidikan Tinggi (KemenristekDikti) untuk memberikan pelatihan Bahasa Inggris, khususnya IELTS.

      Tujuan dari pelatihan yang diselenggarakan di tiga Universitas Negeri terpilih; ITB Bandung, UNY Yogyakarta, dan UM Malang itu untuk membekali dosen-dosen di bawah naungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti;  seluruh dosen Indonesia yang telah memiliki NIDN, agar memiliki keterampilan English (baca: IELTS) sebagai salah satu persiapan atau syarat memperoleh beasiswa studi ke Luar Negeri. Dan, guratan takdir kami adalah bertemu di kota Apel, Malang, ini selama tiga bulan ke depan. Di Malang, kami akan bergulat dengan adonan semangat, kekecewaan, harapan, konflik, emosi, kerinduan, penemuan jati diri, dan tentu saja, persahabatan tak lekang zaman.

      Setiap peserta PKBI yang datang ke kota terpilih, dipastikan telah melalui seleksi administratif yang cukup kompetitif. Sebagian besar datang karena seleksi jalur normal, sebagian datang sebagai “sekuens” dari program Talent Scouting, tetapi ada sebagian kecil yang datang merupakan “cadangan”[1]. Salah satu syarat diterima di program dengan pendanaan full selama studi ini adalah pernah memiliki skor TOEFL Institution (ITP) minimal 500, atau IBT minimal 65 atau IELTS minimal 5.5. Nah, sebagai pemegang skor IELTS 6.0, saya mendaftar dan diterima, alhamdulillah. Kuperoleh skor tersebut dari pelatihan IELTS di IEDUC Bandung atas fasilitas dari homebase, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jadi, tes kualifikasi kompetensi English ini bukan pengalaman jatuh cinta pertama bagiku.

Sugeng Rawuh at The City of Aremania

      Kota Malang, salah satu kota pendidikan nan eksotis di Jawa Timur ini memiliki sebuah kampus berslogan “Umbel” (ini salah satu guyon tutor kami yang Gokil, pak Arif Subiyanto, M.A. Umbel adalah bahasa Jawa untuk ingus), atau Universitas Pembelajar- The Learning University,  Universitas Negeri Malang (UM). Dulu kampus ini lebih dikenal dengan nama IKIP Malang. Kami para peserta kegiatan PKBI hadir di hari pertama untuk registrasi ulang di gedung Balai Bahasa dan Budaya. Di UM, kegiatan PKBI ini dulunya lebih terkenal dengan nama PDEC  atau Pre-Departure English Course. Ditunda dulu ya cerita tentang pengajar-pengajar yang huebat dan gokil di PKBI ini, sambil jalan lah…

      Sebagai informasi, ini pertama kalinya diriku ikut kegiatan eksternal sesama dosen dari luar kampus homebase. Dan, wow, penampilan para peserta ini happening sekali: menawan, elegan,  rapi khas akademisi, beberapa berkacamata layaknya cendekia, dan dari outfit-nya tampak kalau memang merekalah the smart persons within this Republic. Saling bersalaman, terutama dengan the gentlements, mulai kukenal beberapa nama. Ada Aswin dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Yoga dari Universitas Teuku Umar-Aceh, Yousef dari Univ. Singaperbangsa-Karawang, Iwan Sumarlan_yang lebih suka dipanggil Arlan alih-alih Iwan_dari Unram Mataram, Ciko dari Bali, Person dari Universitas Bengkulu, dan Darmansyah dari Unila-Lampung. Setidaknya merekalah peserta yang Talk-active di dalam populasi peserta PKBI di gedung yang beralamat di Jl. Salatiga No.2A, Sumbersari, Kec. Lowokwaru, Malang itu.

Namun, bukan kenal namanya kalau baru hanya kesan di awal saja. Oleh karena itu, nanti, tulisan ini akan banyak mengeksplorasi lokasi-lokasi wisata kota Malang yang kukunjungi bersama teman-teman. Lho, kok bisa tempat wisata untuk mengenal kawan-kawan lebih dekat? Jawabannya ada pada kutipan kalimat hikmah dari Umar bin Khattab di awal, “You don’t really know a person until you live with him, travel with him or do business with him”. Anda tidak benar-benar mengenal seseorang sampai (pernah) tinggal/ bermalam bersamanya, melakukan perjalanan bersamanya, dan bertransaksi bisnis dengannya. Karakter seseorang akan tampak ketika kita lebih lama bersama-sama dengannya, hingga tinggal sedikit ruang baginya untuk menutupi kebiasaan sehari-hari, yang merupakan akhlaknya. 

Nah, untuk lokasi wisata, dalam definisiku, tidak harus sebuah lokasi berpanorama eksotis di alam bebas, yang kadang sudah dikelola oleh Pemerintah Daerah setempat, masuknya menggunakan tiket, parkir kendaraan, dan  semacamnya. Tempat wisata, buatku, adalah setiap tempat yang di sana hati kita merasa bahagia, terhibur, atau memperoleh suatu faedah yang menambah kekayan jiwa kita untuk selalu bersyukur. Oleh karenanya, tempat wisata ini bisa jadi berupa jalan setapak, masjid, warung makan pinggir jalan, lokasi wisata alam, lapangan bulu tangkis, mall, bioskop, atau, bahkan, majelis ta’lim. Pokoknya di mana ada kebahagiaan dan kesyukuran atas hikmah yang diperoleh, itulah lokasi wisata bagiku. Urutan penulisan tempat wisata itu adalah berdasar garis waktu (timeline) keberadaanku di Malang, bukan berdasar skala tertinggi pembelajaran dan hikmah yang kuperoleh darinya. Tentu saja tidak semua bisa dimasukkan dalam tulisan yang terbatas ini. Sekuensial tersebut membuat mungkin ada dua lokasi yang sebenarnya sejenis tetapi tetap kuceritakan. Verywell, sugeng rawuh alias selamat datang di kota Aremania berplat nomor kendaraan N ini.

Bersambung ke bagian 2

Sekilas bagian 2:

Jalan kaki  ke warung makan di tengah kampung untuk menikmati kuliner khas Malang seperti: mie pangsit, tahu telor, pecel, rujak petis, dengan air putih yang boleh nambah sepuasnya tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam, membuatku merasa berkelimpahan dan bersyukur.  


[1] Satu hal yang perlu Anda ketahui, peserta “cadangan” yang disebut di awal tadi, bukanlah peserta sisa seleksi, justru merekalah peraih skor TOEFL ITP atau IELTS di atas rata-rata persyaratan, yang karena satu dan lain hal tetap “nekad” mendaftar PKBI ini (senyum satire).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *