“You don’t really know a person until you live with him, travel with him or do business with him”.
Tulisan ini akan banyak mengeksplorasi lokasi-lokasi wisata kota Malang yang kukunjungi bersama teman-teman. Lho, kok bisa tempat wisata untuk mengenal kawan-kawan lebih dekat? Jawabannya ada pada kutipan kalimat hikmah dari Umar bin Khattab di awal, “You don’t really know a person until you live with him, travel with him or do business with him”. Anda tidak benar-benar mengenal seseorang sampai (pernah) tinggal/ bermalam bersamanya, melakukan perjalanan bersamanya, dan bertransaksi bisnis dengannya. Karakter seseorang akan tampak ketika kita lebih lama bersama-sama dengannya, hingga tinggal sedikit ruang baginya untuk menutupi kebiasaan sehari-hari, yang merupakan akhlaknya.
Nah, untuk lokasi wisata, dalam definisiku, tidak harus sebuah lokasi berpanorama eksotis di alam bebas, yang kadang sudah dikelola oleh Pemerintah Daerah setempat, masuknya menggunakan tiket, parkir kendaraan, dan semacamnya. Tempat wisata, buatku, adalah setiap tempat yang di sana hati kita merasa bahagia, terhibur, atau memperoleh suatu faedah yang menambah kekayan jiwa kita untuk selalu bersyukur. Oleh karenanya, tempat wisata ini bisa jadi berupa jalan setapak, masjid, warung makan pinggir jalan, lokasi wisata alam, lapangan bulu tangkis, mall, bioskop, atau, bahkan, majelis ta’lim. Pokoknya di mana ada kebahagiaan dan kesyukuran atas hikmah yang diperoleh, itulah lokasi wisata bagiku. Urutan penulisan tempat wisata itu adalah berdasar garis waktu (timeline) keberadaanku di Malang, bukan berdasar skala tertinggi pembelajaran dan hikmah yang kuperoleh darinya. Tentu saja tidak semua bisa dimasukkan dalam tulisan yang terbatas ini. Sekuensial tersebut membuat mungkin ada dua lokasi yang sebenarnya sejenis tetapi tetap kuceritakan. Verywell, sugeng rawuh alias selamat datang di kota Aremania berplat nomor kendaraan N ini.
#1 Kos-kosan Jalan Pelabuhan Ketapang
Alasan kupilih ia sebagai “tempat wisata” karena kamar kos pertamaku ini benar-benar menjadi tempat uzlah (menyepi) dan beristirahatku dari lelah hiruk-pikuk keseharian. Ketika pulang ke kamar kost, aku merasa menjadi smartphone yang di-restart ulang. Di dalam kamar kos dengan kamar mandi dalam ini, aku merdeka mengatur waktuku, baik untuk belajar, ibadah, melakukan refreshment activities, atau keluar jalan-jalan mengenal lingkungan sekitar yang orisinil Malang, karena suasananya kampung dan relatif jauh dari pusat kota. Pergi ke warung kelontong kalau ingin beli beras, telur, gula, kopi, deterjen, bahkan mie instan, alih-alih pergi ke swalayan franchise. Jalan kaki ke warung makan di tengah kampung untuk menikmati kuliner khas Malang seperti: mie pangsit, tahu telor, pecel, rujak petis, dengan air putih yang boleh nambah sepuasnya tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam, membuatku merasa berkelimpahan dan bersyukur.
Lokasi kost ini kutemukan dari aplikasi “Mamikos”. Teknologi membantuku menemukan lokasi yang pas, pilih kamar, hingga transfer uang muka. Itu karena aku termasuk orang yang belum merasa tenang sebelum persiapan digarap serius. Jauh-jauh hari sebelum keberangkatan dari Stasiun Balapan, Solo, aku sudah mencari sampai ketemu lokasi ini berdasarkan harga, fasilitas, dan keterjangkauan dengan kebutuhan logistik. Bahkan sepeda motorpun kukirim lewat jasa paket dari rumah untuk transportasi selama 3 bulan di kota tempat berdirinya kerajaan Singosari ini. Alhamdulilah, meski ternyata lokasinya tidak sedekat seperti tampak di Google Map, sekitar 7 km dari lokasi belajar, tetapi dengan adanya kendaraan sendiri (kukirim sepeda motor Jupiter ke Malang melalui jasa paket Kereta Api) aku merasa lebih bebas dan bermental “mampu”. Dan yang lebih penting, hemat.
Di kosan Jl Pelabuhan Ketapang ini pula aku sekali lagi belajar tentang sosiopsikologi masyarakat Jawa Timur. Sebagai putra Jogja yang sekolah dari TK sampai S2 di Jogja, kehidupan dalam kos-kosan yang jauh dari rumah tinggal bukan merupakan sumber daya yang menyokong kompetensi kecerdasan interpersonal-ku. Awak tak asing dengan dunia mahasiswa dan problematikanya, tetapi hidup dan tinggal bersama warga kost yang sebagian besar merupakan karyawan dan pegawai adalah pengalaman baru. Dan warga rumah kost dua lantai dengan 10 kamar ini sebagian besar adalah karyawan, meski ada pula mahasiswa,tetapi tidak ada yang dosen. Ada yang bekerja sebagai pegawai Bank, guru, pegawai cafe, dan entah apa aku tak tahu, jarang pulang kecuali hanya segelintir hari setiap pekan-nya.
Kawan-kawan baru di kosan tempat tinggalku selama dua bulan, sebelum bulan ketiga aku pindah kost ke daerah yang lebih “kota”, ini memberiku pelajaran tentang ketahanan, kegigihan, dan arti perjuangan. Ketika aku rindu keluarga, aku akan ingat cerita dari, sebut saja mas Har, yang menahan rindu pada istri dan anaknya yang masih kecil di Jombang untuk bekerja sebagai pegawai di Malang. Ia tidak selalu bisa pulang di akhir pekan karena jarak dan banyaknya pekerjaan tambahan. Ketika aku merasa kondisi finansialku kritis, aku akan teringat cerita teman-teman kost guru honorer yang keuangannya harus kuat bertahan dari pekan ke pekan, dan itu buatku lebih bersyukur. Ketika hasil test simulasi IELTS ku di PKBI menyedihkan sehingga hampir pupus harapanku untuk bisa mendapat beasiswa S3 luar negeri, aku akan tetap bersyukur mengingat salah satu kawanku yang harus bekerja keras hingga dini hari menjadi waiter di kafe untuk bisa lanjut kuliah S1. Alhamdulillah, aku mendapatkan fasilitas untuk bisa sekolah sampai Master, menjadi dosen, dan sekarang dibiayai negara untuk belajar IELTS di salah satu kampus Negeri terbaik di Malang. Hanya rasa syukur, syukur, dan syukur lah yang modal kuat untuk terus berjuang.
Bersambung ke bagian 3