“Kok bisa sih, kamu punya pikiran kuliah SainsTek di Saudi Arabia?”Bisa dikatakan foto di bawah ini menjawab pertanyaan tersebut. Ya, Pesantren Tahfidz Taruna Al Quran-lah salah satu pemantiknya. Bagaimana jelantera sejarahnya?Sewaktu masih menempuh studi Magister di UNY, saya ikut mengajar santri-santri Tsanawiyah penghapal Al Quran di pesantren milik Ustadz Umar Budihargo, MA tersebut.
Berinteraksilah saya dengan para Asaatidz di sana. Termasuk putra sulung Ustadz Umar, yaitu ustadz Khalil yang menempuh studi di Dammam, KSA. Obrol punya obrol, barulah saya tahu bahwa di Saudi ada juga jurusan ilmu Sains. Betapa sempitnya wawasan saya mengenai studi di Timur Tengah, karena setahu saya studi di sana adalah bagi mereka yang ingin mendalami Islam dan ilmu-ilmu Syar’iyyah.”Coba saja buka websitenya. Ada lengkap prosedur pendaftaran serta jurusan-jurusan ilmu umum yang ditawarkan. Fasilitasnya…beasiswa full dan tiket yang ditanggung semuanya oleh Pemerintah Saudi. ” itu pesan ustadz Khalil yang terus terngiang-ngiang.
Penasaran, pertama kali web yang ketemu adalah kampus KAUST atau King Abdullah Science and Technology… Maasyaa Allah, luar biasa, melongo saya waktu itu melihat fasilitas dan bangunan kampusnya. Malah mirip kampus di Eropa daripada di timur tengah.Walakin, dalam bahasa Arab arti kata Walakin adalah “akan tetapi/meskipun”, dan ternyata di KBBI ada juga kata serapan ‘walakin’ yang berarti sama.
Walakin, saya kan guru Biologi, jurusan pendidikan dong yang dicari, minimal yang juga nyangkut dengan Biologi. Dan kampus KAUST isinya full ilmu sains murni, terapan dan teknologi kekinian. Biologi nya pun, subhanallah, Bio molekuler tingkat khayangan buat saya, Computation and Modelling Biology yang entah apa itu isinya, serta Bioscience level advanced.. terlihat dari sampel publikasi yang ditunjukkan oleh laman webnya. Lewat dulu deh, coba cari yang lain.
Ketemu yang kedua, kampus di Ibukota Saudi, Riyadh, yaitu King Saud University. Kembali saya tercengang dengan majunya teknologi kampus tersebut, bahkan kampus yang diambil dari nama raja Saud ini mentahbiskan dirinya sebagai Smart University, dengan dukungan teknologi cerdas di penjuru sudutnya. Departemen yang ada pun lengkap sekali, dengan asumsi pengetahuan saya yang sekolah di Indonesia saja (atau bahkan di Jogja saja sejak S1 sampai S2). Ketemu! Ada PhD bidang pendidikan Sains di sana. Namun, lama pembukaan pendaftarannya masih tutup. Jenjang magister saya juga belum kelar, masih nulis tesis. Oke, Ctrl+D alias Bookmark dulu.
Selancar maya juga menemukan Universitas Dammam dan Dhahran (King Fahd University Petroleum and Minerals). Makin terasa kuper dan bodoh saya. Bagai Katak dalam Casing Hape. Dan sejak saat hari selancar itulah diri ini memanjakan doa serta minta didoakan, diantaranya pada santri-santri penghapal Al Quran di Jailul Qur’an yang terletak di Lempongsari, Sariharjo, Sleman itu. “Anak-anak, doakan pak Luthfi ya, semoga besok bisa lanjut sekolah lagi ke Saudi.”
Bahkan dengan santri kelas 9 Tsanawiyah, sebelum akhirnya saya resign untuk pindah ke UMS, pernah kami semacam membuat azzam bersama bahwa,” Suatu hari nanti kita akan reuni di pelataran Masjidil Haram, Insyaa Allah”Dan niat itu selangkah-demi-selangkah telah menapaki jalannya. Belum lama kontak serta chat dengan santri kelas 9, yang kini sudah tamat Aliyah untuk kuliah, beberapa dari mereka sudah mendaftar di kampus Saudi seperti Univ Islam Madinah. Maasyaa Allah Tabarakallah. Ditambah lagi, alhamdulillah, jarak sekolah saya kini, King Abdulaziz University, dengan Baitullah Al Haram di Makkah cukup sejauh 1 jam perjalanan saja dengan mobil (90km).
Semoga Allah ijabah niatkan reuni kita ya, para siswaku sekalian. Allahu akbar!Terima Kasih atas doa antum semua.Semoga Allah balas dengan kebaikan yang tak berhingga.
Ttd
Pak Luthfi
Guru IPA Biologi kalian dulu.
========================================
Inzet Photo:
Ketika menemani anak-anak kelas 9 try out, sebuah pesan masuk di inbox FB. Dari alumni kelas 9 tahun lalu, yang kini melanjutkan studi ke MAN model di Jabar. ……….
Ia ceritakan antusiasmenya, belajar Biologi di jurusan IPA. Terkhusus ikhwal DNA. Ternyata belajar DNA tidak sesulit yang ia sangka. “Mungkin karena saya sudah punya hapalan (Al Quran 30 juz), Tadz.” kata dia dalam layar maya.
Alhamdulillah, barakallahu fiikum Ananda. Semoga kelak menjadi hafidz Al Quran nan ahli DNA. Dan menambah daftar ilmuwan muslim Nusantara, yang memahat lantip bongkah peradaban manusia. Mengagungkan Asma-Nya, dalam publikasi sains mendunia.
